Harga nikel di London Metal Exchange bertahan di bawah USD 17.000 per ton selama tiga bulan terakhir. Ironisnya, tekanan terbesar datang dari Indonesia sendiri: produksi nickel pig iron dan MHP terus naik meski permintaan baja nirkarat Tiongkok melambat.

Kurva biaya menentukan pemenang

Kami memetakan biaya tunai 14 smelter besar. Hasilnya, smelter berbasis RKEF terintegrasi dengan tambang sendiri masih memiliki biaya di bawah USD 11.000 per ton. Sebaliknya, smelter yang membeli bijih dari pihak ketiga dan bergantung pada listrik batu bara impor sudah berada di titik impas.

Kebijakan RKAB sebagai katup

Pemerintah mengisyaratkan akan memangkas kuota RKAB tahun depan untuk menjaga harga. Bila terealisasi, ini menguntungkan penambang terintegrasi, tetapi memperburuk margin smelter yang bergantung pada bijih pihak ketiga.

“Yang punya tambang akan bertahan. Yang hanya punya tungku akan menegosiasikan ulang semuanya,” kata seorang direktur smelter yang enggan disebut namanya.

Implikasi bagi emiten

  • Emiten tambang dengan cadangan besar dan kontrak jangka panjang: margin relatif aman.
  • Emiten smelter murni: risiko penundaan ekspansi dan penurunan dividen.
  • Emiten baterai EV: diuntungkan oleh bahan baku murah, tetapi permintaan global masih lesu.

Laporan lengkap berisi tabel biaya per smelter dan sensitivitas laba terhadap harga nikel tersedia untuk pelanggan premium.